Cara Membuat Modul Ajar/ RPPH dari Tema dan Contohnya. Halaman ini berisi Panduan Lengkap: Cara Menurunkan Tema Menjadi Modul Ajar Deep Learning (1 Minggu). Dunia pendidikan Indonesia kini tengah bertransformasi menuju kualitas yang lebih baik. Salah satu pendekatan terbaru yang diusung oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah pada tahun 2025 adalah pendekatan Deep Learning atau Pembelajaran Mendalam.
Bagi ayah bunda para pendidik, baik di jenjang PAUD maupun Pendidikan Dasar, mungkin bertanya-tanya: Bagaimana cara menerapkan konsep Pembelajaran Mendalam ini ke dalam modul ajar sehari-hari secara praktis?
Dalam artikel ini, kita akan membedah langkah demi langkah cara menurunkan tema yang sangat dekat dengan anak, yaitu “Keluargaku” (atau “Aku Sayang Keluargaku”), menjadi sebuah Modul Ajar Deep Learning untuk durasi waktu satu minggu.
Apa itu Deep Learning (Pembelajaran Mendalam)?
Sebelum menyusun modul ajar, kita harus memahami esensi dari Deep Learning di Indonesia. Pembelajaran Mendalam dirancang untuk mengatasi krisis pembelajaran dengan menggeser fokus dari sekadar menghafal menjadi pemahaman konsep yang aplikatif.
Pendekatan ini memiliki 3 prinsip utama, yaitu:
- Berkesadaran (Mindful): Anak sadar mengapa mereka belajar suatu hal dan terlibat penuh secara mental serta fisik.
- Bermakna (Meaningful): Materi relevan dengan kehidupan nyata peserta didik, bukan sekadar teori.
- Menggembirakan (Joyful): Suasana belajar yang memotivasi, menyenangkan, dan bebas tekanan.
Selain itu, alur pengalaman belajarnya harus mencakup tiga tahap: Memahami, Mengaplikasi, dan Merefleksi.
Langkah-Langkah Membuat Modul Ajar Deep Learning
Untuk merancang modul ajar yang efektif, kita sangat disarankan menggunakan metode Backward Design (Desain Mundur). Artinya, kita tentukan dulu hasil akhirnya (tujuan), lalu tentukan bukti penilaiannya (asesmen), baru merancang kegiatan pembelajarannya.
Langkah 1: Menentukan Tujuan Pembelajaran (TP)
Tentukan apa yang ingin dicapai anak pada akhir minggu. Tujuan ini diturunkan dari Capaian Pembelajaran (CP) sesuai fase fondasi PAUD.
Contoh Tujuan Pembelajaran:
- Anak dapat mengenali anggota keluarganya dan menceritakan peran mereka dengan bangga.
- Anak menunjukkan rasa kasih sayang dan bersyukur atas keluarganya sebagai karunia Tuhan.
- Anak mampu bekerja sama dan mengekspresikan ide membuat karya tentang keluarganya menggunakan berbagai media.
Langkah 2: Menentukan Rencana Asesmen
Asesmen dalam Pembelajaran Mendalam, khususnya untuk anak usia dini (Fase Fondasi) dan awal SD (Fase A), tidak disarankan menggunakan tes tertulis.
- Asesmen Formatif: Dilakukan setiap hari melalui observasi dan catatan anekdotal saat anak beraktivitas.
- Asesmen Sumatif: Dilakukan di akhir minggu (misalnya hari ke-5) dengan teknik unjuk kerja atau penilaian produk/hasil karya, seperti saat anak mempresentasikan karya tentang keluarganya (bisa di akhir materi, akhir minggu, atau sesuai waktu yang telah direncanakan oleh pendidik).
Langkah 3: Mendesain Skenario Pembelajaran 1 Minggu
Skenario ini disusun mengikuti 3 tahapan Deep Learning (Memahami, Mengaplikasi, Merefleksi).
Hari 1 & 2: Tahap “Memahami” (Membangun Konsep Dasar)
Fokus pada hari pertama dan kedua adalah menstimulasi rasa ingin tahu dan memberikan pemahaman esensial tentang keluarga.
- Aktivitas Hari 1: Pendidik membacakan buku cerita bergambar tentang kehangatan keluarga. Setelah itu, berikan pertanyaan pemantik (HOTS) yang membangun kesadaran (mindfulness): “Siapa saja yang tinggal bersamamu di rumah? Apa yang biasanya kalian lakukan bersama di hari libur?”.
- Aktivitas Hari 2: Membawa foto keluarga. Anak-anak diajak duduk melingkar dan secara bergantian menceritakan anggota keluarganya dari foto yang dibawa. Guru memantik diskusi: “Mengapa kita harus saling menyayangi di dalam keluarga?” Ini menanamkan nilai moral secara bermakna (meaningful).
Hari 3 & 4: Tahap “Mengaplikasi” (Beraksi dan Berkarya)
Di tahap ini, anak menerapkan pengetahuannya melalui tindakan nyata dan pemecahan masalah.
- Aktivitas Hari 3: Menggunakan Loose Parts (material lepasan). Sediakan berbagai material terbuka dari alam atau barang bekas (kardus, ranting, batu, balok, kain). Ajak anak membuat “Rumah Impian Keluargaku”. Biarkan mereka berkolaborasi. Guru cukup memfasilitasi dengan bertanya: “Apa yang bisa kamu tambahkan supaya anggota keluargamu nyaman tinggal di rumah buatanmu ini?”.
- Aktivitas Hari 4: Bermain peran (Role Play). Buat sudut bermain peran dengan properti sederhana (sepatu ayah, tas ibu, sapu, dll). Anak-anak bermain peran menjadi ayah, ibu, atau anak yang sedang bekerja sama membersihkan rumah atau menyiapkan makanan. Kegiatan ini sangat menggembirakan (joyful) dan melatih empati anak.
Hari 5: Tahap “Merefleksi” (Evaluasi dan Pemaknaan)
Refleksi adalah jantung dari Deep Learning. Di tahap ini, anak mengevaluasi apa yang telah mereka pelajari dan menemukan makna di baliknya.
- Aktivitas Hari 5: Anak mempresentasikan hasil karya yang dibuat selama satu minggu (misalnya rumah dari loose parts atau lukisan keluarga). Setelah itu, ajak anak berefleksi bersama. Tanyakan: “Bagaimana perasaanmu saat bermain peran menjadi ibu/ayah? Apa satu hal baik yang ingin kamu lakukan untuk ayah/ibumu saat pulang ke rumah nanti?”
- Asesmen Sumatif: Saat anak bercerita dan menunjukkan karyanya, pendidik mengambil data asesmen menggunakan rubrik penilaian atau hasil karya.

Sesi Praktek: Ayo Coba Membuat Modul Ajar 1 Minggu RPPH
Bagian ini kita akan praktek membuat modul ajar (RPPH, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian) dari penjelasan yang sudah dipaparkan di atas. Berikut adalah contoh Modul Ajar (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) berdurasi 1 minggu untuk tema “Keluargaku” di jenjang PAUD/Fase Fondasi. Modul ini disusun selaras dengan konsep Deep Learning (Pembelajaran Mendalam) yang mengacu pada prinsip Berkesadaran, Bermakna, dan Menggembirakan, serta memuat alur pengalaman belajar: Memahami, Mengaplikasi, dan Merefleksi.
Sesuai dengan pendekatan Backward Design (Desain Mundur), modul ini diawali dengan penetapan Tujuan Pembelajaran dan Rencana Asesmen, sebelum masuk ke rincian kegiatan sehari-hari.
Modul Ajar Deep Learning Tema Keluargaku (1 Minggu)
Fase/Kelompok: Fondasi / PAUD (Usia 5-6 Tahun)
Tema/Topik: Aku Sayang Keluargaku
Alokasi Waktu: 1 Minggu (5 Hari Pembelajaran)
A. Tujuan Pembelajaran (TP)
- Murid mengenali keluarganya dan menceritakan tentang mereka dengan rasa bangga.
- Murid menunjukkan rasa syukur dan kasih sayang terhadap anggota keluarganya.
- Murid dapat menggunakan berbagai material di sekitarnya (loose parts) untuk mengekspresikan ide secara kreatif.
- Murid dapat berpartisipasi aktif dan bekerja sama dalam kegiatan bermain peran.
B. Rencana Asesmen
Karena ini berada di jenjang PAUD (Fase Fondasi), asesmen tidak boleh menggunakan tes tertulis.
- Asesmen Formatif (Hari 1-4): Menggunakan teknik Observasi dan instrumen Catatan Anekdotal untuk merekam keterlibatan aktif dan respons emosional anak saat proses belajar.
- Asesmen Sumatif (Hari 5): Menggunakan teknik Kinerja (Unjuk Kerja) dan Portofolio/Hasil Karya dengan menggunakan instrumen rubrik penilaian saat anak mempresentasikan karyanya terkait keluarga.
C. Skenario Pembelajaran Harian
HARI 1: TAHAP “MEMAHAMI” (Siapa Saja Keluargaku?)
Fokus: Menggali pengetahuan esensial anak secara berkesadaran (mindful) tentang anggota keluarga yang tinggal bersamanya.
Kegiatan Pembuka:
- Guru menyapa anak, berdoa bersama, dan bernyanyi lagu “Satu-Satu Aku Sayang Ibu”.
- Guru membacakan buku cerita bergambar tentang kehangatan keluarga.
- Guru memberikan pertanyaan pemantik HOTS: “Coba sebutkan, siapa saja yang tinggal di rumah bersama kalian?”
Kegiatan Inti:
- Anak diminta untuk menggambar anggota keluarganya di selembar kertas.
- Setelah selesai, secara bergantian anak menceritakan gambar yang telah mereka buat kepada teman-temannya.
Kegiatan Penutup:
- Guru mengajak anak berefleksi: “Bagaimana perasaan kalian saat menceritakan tentang keluarga tadi?”.
- Doa penutup dan pulang.
Asesmen: Observasi (Mengamati kemampuan anak dalam menyebutkan dan menceritakan anggota keluarganya secara verbal).
HARI 2: TAHAP “MEMAHAMI” (Apa Saja Peran di Keluargaku?)
Fokus: Anak memahami nilai dan karakter (meaningful) dari peran masing-masing anggota keluarga.
Kegiatan Pembuka:
- Berdoa, bernyanyi.
- Guru memantik diskusi dengan pertanyaan terbuka: “Apa saja yang biasa ayah dan ibu lakukan di rumah untuk merawat kalian?”.
Kegiatan Inti:
- Guru menyediakan keranjang berisi benda-benda sehari-hari (misal: celemek, sapu, dasi, sepatu kerja, kacamata).
- Anak-anak diajak bermain mencocokkan dan bercerita: benda mana yang biasa dipakai oleh ayah, ibu, kakek, atau nenek.
Kegiatan Penutup:
- Diskusi penutup: “Mengapa setiap orang di keluarga harus saling membantu?”
- Doa dan salam penutup.
Asesmen: Catatan anekdotal (Merekam celotehan dan pemahaman anak saat mengaitkan benda dengan peran orang tua).
HARI 3: TAHAP “MENGAPLIKASI” (Membangun Rumah Impian Keluarga)
Fokus: Menerapkan pemahaman ke dalam karya kolaboratif menggunakan material lepasan (loose parts) secara menggembirakan (joyful).
Kegiatan Pembuka:
- Senam ringan agar tubuh bugar (olah raga).
- Guru memantik ide anak: “Supaya keluarga kita nyaman, rumah seperti apa yang ingin kalian bangun?”
Kegiatan Inti:
- Guru telah menata lingkungan belajar dengan berbagai loose parts (balok, stik es krim, kardus bekas, batu, dedaunan).
- Anak dibagi dalam kelompok kecil dan diajak berkolaborasi membuat miniatur “Rumah Impian Keluarga”.
- Guru bertindak sebagai fasilitator dengan bertanya: “Apa yang akan kamu tambahkan supaya ayah dan ibu senang tinggal di rumah ini?”.
Kegiatan Penutup:
- Masing-masing kelompok menceritakan hasil karya rumahnya.
- Beres-beres bersama.
Asesmen: Ceklis observasi (Menilai kemampuan anak dalam berkolaborasi dan menggunakan loose parts untuk mengekspresikan ide).
HARI 4: TAHAP “MENGAPLIKASI” (Bermain Peran Keluarga)
Fokus: Mempraktikkan pemahaman sosial-emosional melalui pengalaman langsung (learning by doing).
Kegiatan Pembuka:
- Guru menyiapkan area bermain peran yang ditata seperti suasana rumah (ada sudut dapur tiruan, ruang keluarga).
- Guru bertanya: “Siapa yang hari ini mau menjadi ibu? Siapa yang mau menjadi ayah atau anak?”
Kegiatan Inti:
- Anak-anak diberi kebebasan untuk bermain peran (Role Play) bersama teman-temannya. Mereka memerankan skenario sederhana, misalnya: ibu sedang memasak dibantu anak, atau ayah sedang bersiap bekerja.
- Anak leluasa bercakap-cakap sesuai dengan perannya.
Kegiatan Penutup:
- Refleksi empati: “Bagaimana rasanya menjadi ibu yang sibuk merawat anak? Atau menjadi ayah?” (Ini melatih olah rasa anak).
Asesmen: Penilaian Kinerja (Melihat inisiatif anak berpartisipasi dan keberaniannya berdialog).
HARI 5: TAHAP “MEREFLEKSI” (Hari Kasih Sayang Keluarga)
Fokus: Anak mengevaluasi dan memaknai pengalaman belajarnya secara holistik.
Kegiatan Pembuka:
Guru mengajak anak duduk melingkar dan melakukan pernapasan sejenak (latihan berkesadaran/mindful).
Kegiatan Inti:
- Anak-anak diajak membuat karya kartu ucapan sederhana (menggunakan krayon, spidol, cap jari) bertuliskan “Aku Sayang Ayah/Ibu”.
- Anak-anak bergantian maju ke depan kelas (presentasi singkat) untuk menceritakan apa yang paling mereka senangi dari keluarga mereka dan menunjukkan hasil karya/kartu yang dibuat.
Kegiatan Penutup (Refleksi Akhir Minggu):
- Guru bertanya pemaknaan akhir: “Satu hal baik apa yang ingin kalian lakukan untuk ayah atau ibu saat pulang sekolah nanti?”.
- Berdoa dan motivasi akhir untuk memeluk orang tua saat dijemput.
Asesmen (Sumatif): Rubrik Penilaian Portofolio/Unjuk Kerja (Menilai ketercapaian tujuan pembelajaran: kemampuan mengomunikasikan rasa sayang dan kebanggaan terhadap keluarga secara verbal dan melalui karya).
Catatan Tambahan untuk Pendidik: Pastikan setiap asesmen formatif harian digunakan untuk menyesuaikan strategi keesokan harinya. Misalnya, jika pada Hari 1 ada anak yang kesulitan menceritakan keluarganya, pada Hari 2 guru dapat memberikan pendampingan personal dan pertanyaan yang lebih sederhana.
Tips Ekstra untuk Guru: Menciptakan Ekosistem Kelas yang Mendukung
Untuk memastikan pendekatan Pembelajaran Mendalam ini berjalan lancar, maka perlu menata lingkungan belajar yang kondusif:
Penataan Kelas yang Fleksibel: Susun ruang kelas agar memungkinkan anak bergerak bebas dan berkolaborasi. Lingkungan belajar adalah “pendidik ketiga” bagi anak.
Keterlibatan Orang Tua: Jadikan orang tua sebagai mitra. Ayah bunda bisa memberikan tugas ringan di rumah, seperti “Hari ini peluk ayah dan ibumu, lalu katakan terima kasih”. Kemitraan ini membuat pembelajaran di sekolah selaras dengan kehidupan nyata anak. Pertanyaan Pemantik, Bukan Sekadar Instruksi: Jangan mendikte anak harus membuat apa. Gunakan pertanyaan terbuka (HOTS) agar anak terbiasa berpikir kritis.
Kesimpulan
Menurunkan tema “Keluargaku” menjadi Modul Ajar Deep Learning bukanlah hal yang rumit jika kita berpegang pada prinsip Berkesadaran, Bermakna, dan Menggembirakan. Dengan mengikuti alur Backward Design dan membagi hari menjadi tahap Memahami, Mengaplikasi, dan Merefleksi, Guru tidak hanya sekadar memberikan materi, melainkan sedang menanamkan karakter dan pemahaman hidup yang akan terus diingat oleh peserta didik sepanjang hayat mereka.
