Proses Pembelajaran Sains Bagi Anak Usia Dini (PAUD)



Proses Pembelajaran Sains Bagi Anak Usia Dini (PAUD). Ada dua proses dalam pembelajaran sains untuk anak usia dini yaitu:

Proses Pembelajaran Sains Bagi Anak Usia Dini (PAUD)

Proses Ilmiah Pembelajaran Sains PAUD

Proses ilmiah adalah siklus membentuk hipotesis, pengumpulan data, mengkonfirmasi atau tidak menggunakan hipotesis, membuat generalisasi, dan kemudian mengulangi siklus.

Keterampilan dasar yang digunakan dalam proses ilmiah termasuk mengamati, mengklasifikasi dan membandingkan, mengukur, berkomunikasi, bereksperimen, berkaitan, menyimpulkan, dan menerapkan.

Karena menyimpulkan dan menerapkan membutuhkan pemikiran yang lebih abstrak, anak-anak seharusnya tidak diharapkan untuk menjadi kompeten dalam keterampilan ini dalam arti formal.



Proses Keterampilan Ilmiah Pembelajaran Sains PAUD

Anak-anak menemukan konten ilmu dengan menerapkan proses ilmu pengetahuan. Hal ini dapat dilakukan melalui kegiatan ilmiah, diskusi kelas, membaca, dan berbagai strategi pengajaran lainnya. Ini adalah keterampilan berpikir diperlukan untuk belajar ilmu pengetahuan.

Keterampilan proses adalah mereka yang memungkinkan anak untuk memproses informasi baru melalui eksperimen. Keterampilan yang paling sesuai untuk anak usia dini adalah mengamati, mengklasifikasi, membandingkan, mengukur, mengkomunikasikan, dan eksperimen.

Mengasah keterampilan ini sangat penting untuk menghadapi kehidupan sehari-hari serta untuk studi masa depan dalam ilmu pengetahuan dan matematika anak. Beberapa keterampilan, yang berlaku untuk program ilmu anak usia dini, yaitu:

1. Mengamati

Melihat dan mengamati hal yang tidak sama. Guru perlu memberikan bimbingan dalam teknik observasi. Anak-anak dapat didorong untuk memperhatikan dalam tindakan spesifik atau informasi. Misalnya, anak dapat memberanikan diri  untuk mengamati perilaku burung di tanah – apakah itu berjalan atau naik? Pengamatan ini tentu tidak terbatas pada visual, melainkan harus melibatkan semua indera – melihat, mendengar, mencium, mencicipi, dan perasaan.

2. Ketrampilan Klasifikasi Anak

Klasifikasi adalah keterampilan proses dasar yang digunakan dalam mengorganisir informasi. Dalam rangka untuk mengklasifikasikan benda-benda atau informasi, anak-anak harus dapat membandingkan dan seimbang dengan sifat benda atau informasi.

Anak-anak mulai mengklasifikasikan berdasarkan fungsi, warna, dan bentuk. Anak-anak dapat mengklasifikasikan berdasarkan karakteristik atau sifat-sifat tertentu, tetapi klasifikasi perkalian, di mana objek yang diterima ke dalam beberapa kategori, sulit bagi anak-anak di usia dini.

Proses Pembelajaran Sains Bagi Anak Usia Dini (PAUD) permainan sains anak usia dini artikel sains anak usia dini pengembangan pembelajaran sains pada anak usia dini ali nugraha sains air untuk anak usia dini artikel sains untuk anak usia dini artikel pengertian sains untuk anak usia dini analisis pembelajaran sains bagi anak usia dini ape sains anak usia dini belajar sains untuk anak usia dini buku sains untuk anak usia dini konsep sains bagi anak usia dini

Anak-anak harus mampu untuk berpikir dalam hal operasional konkret sebelum mereka bisa memikirkan benda sebagai termasuk untuk beberapa kategori sekaligus, dan sebagian besar anak-anak tidak pemikir konkret di tahun-tahun anak usia dini.

Guru dapat mendorong anak untuk mengklasifikasikan benda-benda dan untuk menjelaskan bagaimana benda telah dikelompokkan. Anak-anak dapat mengklasifikasikan blok dengan bentuk, kelompok bahan-bahan yang disimpan di area seni, atau tombol semacam daun, kerang, atau koleksi lainnya.

3. Ketrampilan Membandingkan

Membandingkan adalah proses pemeriksaan objek dan peristiwa dalam hal kesamaan dan perbedaan. Ini biasanya melibatkan mengukur, menghitung, mengukur, dan mengamati dengan seksama. Membandingkan penting karena anak-anak mengamati, misalnya, perilaku tikus dan marmut dan kemudian menentukan apa yang sama dan berbeda tentang mereka. Contoh lain anak membandingkan kelopak pada mahkota dengan mawar.

4. Ketrampilan Mengukur Anak

Pengukuran adalah keterampilan proses dasar yang diperlukan untuk mengumpulkan data. Pengukuran tidak hanya mengacu pada menggunakan ukuran standar. Anak-anak dapat mengukur makanan hamster oleh sendok, memotong seutas tali tinggi tanaman kacang mereka, membandingkan ukuran benih atau batu, atau menggunakan gelas atau mengumpulkan salju dan mengamati jumlah air yang dihasilkan saat salju mencair.

5. Ketrampilan Komunikasi Anak

Berkomunikasi adalah keterampilan proses dasar yang lain. Anak-anak dapat didorong untuk berbagi pengamatan dan koleksi data mereka melalui berbagai cara. Mereka dapat berbicara tentang temuan mereka, membuat catatan bergambar, menghasilkan diagram dan grafik, atau narasi dalam rangka untuk berbagi informasi, data, dan kesimpulan. Proses komunikasi adalah penting, karena anak-anak mulai memahami bagaimana pengetahuan dibuat dalam bidang ilmu pengetahuan.

6. Ketrampilan Eksperimen Anak

Bereksperimen bukanlah proses baru untuk anak-anak. Mereka telah melakukan percobaan sejak mereka pertama kali mengambil mainan atau melemparkan semangkuk sereal. Dalam proses ilmiah, bereksperimen berarti mengendalikan satu atau lebih variabel dan kondisi memanipulasi.
Guru dapat membantu anak-anak memikirkan kegiatan bermain mereka sebagai percobaan dengan terampil mempertanyakan dan mendorong anak-anak untuk merefleksikan tindakan mereka dan hasil dari tindakan mereka. Ketika anak-anak mencoba untuk menyeimbangkan satu balok pada sebuah menara balok, penurunan pewarna makanan ke dalam gelas air, atau tumbuhan beberapa benih di tanah yang berbeda, mereka dapat dibimbing untuk berpikir kegiatan ini sebagai percobaan.

7. Ketrampilan Berkaitan, Menyimpulkan, Menerapkan

Anak-anak akan menggunakan keterampilan proses yang berkaitan, menyimpulkan, dan menerapkan hanya dengan cara sangat informal:

  • Terkait adalah proses menggambar abstrak dari bukti konkret. Misalnya, anak yang mengamati beku air mungkin tidak mampu berhubungan pengamatan bahwa dengan ide abstrak yang diberi cairan menjadi padatan pada suhu tertentu.
  • Menyimpulkan adalah kemampuan untuk menentukan hubungan sebab dan akibat atau penjelasan untuk fenomena ketika proses tidak langsung diamati. Contoh fenomena teramati tersebut termasuk listrik dan magnet.
  • Menerapkan menggunakan informasi dari pengalaman untuk menciptakan, membuat, memecahkan masalah baru, dan menentukan probabilitas. Anak-anak dapat terlibat dalam menerapkan pengetahuan ilmiah tapi tidak dalam, pengertian analisis formal. Misalnya, jika anak-anak dapat mengamati perilaku air ketika ia jatuh pada malam musim dingin, mereka dapat menerapkan beberapa pengamatan ini untuk cairan lain dan membuat prediksi tentang apa yang akan terjadi pada mereka dalam kondisi yang sama. Hal ini tidak masuk akal, namun untuk mengharapkan anak-anak untuk menganalisis hasil dan menerapkannya tanpa memberikan pengalaman konkret untuk dipikirkan.