Pengertian Mental Hectic dan Hubungannya Calistung PAUD



Pengertian Mental Hectic dan Hubungannya dengan Calistung di PAUD. Tulisan ini diterbitkan untuk menyadarkan orang tua dan pendidik PAUD seluruh Indonesia untuk menggunakan pengajaran calistung (baca tulis dan hitung) pada anak usia dini (usia PAUD) sebijaksana mungkin dan agar menggunakan metode pembelajaran yang tepat bagi anak.

Pengertian mental hectic didefinisikan sebagai kondisi dimana seseorang baik anak atau orang dewasa mengalami kekacauan mental, meskipun begitu ayah bunda tidak akan menemukan definisi mental hectic karena istilah ini adalah istilah buatan dalam psikologi. Jadi masih belum jelas artinya, akan tetapi berdasarkan kebahasaan istilah hectic dapat berarti riuh, ribut, tidak tenang, sangat sibuk, ramai sekali. Dari sini istilah mental hectic dapat diartikan sebagai kondisi kejiwaan yang tidak tenang, bingung, sibuk karena merasa dikejar-kejar tugas.

Kondisi ini layaknya ketidak seimbangan seseorang dalam merasa (feel), melihat (perceive), mendengar (hear), berfikir (think), dan bertindak (act), yang pada akhirnya mengakibatkan orang tersebut mengalami “kebingungan” yang pada akhirnya dapat mengarahkannya pada strees, depresi, merasa terintimidasi, ataupun merasa terancam.

Tidak hanya pada anak kecil, mental hectic juga dapat terjadi pada orang dewasa, tapi yang lebih rentan pengaruhnya terjadi pada anak usia dini karena dapat mengarahkan anak menjadi seorang yang pemberontak, tidak patuh, bahkan mengabaikan segala informasi yang diterimanya.



Pendidikan adalah penentu generasi bangsa. Bisa kita lihat kenapa pelajar Indonesia diberitakan banyak tawuran sementara di luar negeri kondisinya cukup kondusif. Hal ini disinyalir karena kurikulum pendidikan yang dipakai berbeda, di luar negeri pengajaran calistung dimulai pada saat anak menempuh sekolah dasar.

Pengertian Mental Hectic dan Hubungannya dengan Calistung di PAUD. Tulisan ini diterbitkan untuk menyadarkan orang tua dan pendidik PAUD seluruh Indonesia untuk menggunakan pengajaran calistung (baca tulis dan hitung) pada anak usia dini (usia PAUD) sebijaksana mungkin dan agar menggunakan metode pembelajaran yang tepat bagi anak.

Benarkah Calistung Menyebabkan Mental Hectic ?

Mental hectic tidak hanya disebabkan oleh faktor tunggal yang bernama calistung. Bagi anak, bermain game dengan level tertentu lebih potensial menyebabkan mental hectic juga faktor keluarga, lingkungan dan termasuk perlakuan guru juga dapat menimbulkan mental hectic. Dan bagi orang dewasa dikejar-kejar deadline atau bos yang galak juga memicu mental hectic.

Proses Belajar Dalam Dunia Anak

Calistung dituduh menjadi salah satu oknum yang memicu terjadinya mental hectic pada perkembangan anak. Hal ini bisa jadi benar dan juga tidak. Melihat fenomena ini, kita harus mengembalikannya pada keadaan empiris yang melatarbelakangi terjadinya mental hectic, yaitu kegiatan belajar. Dalam usia anak, mereka tidak bisa membedakan mana kegiatan belajar, dan yang mana kegiatan bermain. Karena pada dasarnya anak-anak adalah para pebelajar alami, yaitu generasi yang terus belajar dari kegiatan sehari-harinya.

Dalam proses belajar (dalam dunia anak), pola ini pun selalu terjadi :
“Working Memory (WM) → Short-term Memory (SM) → Long-term Memory (LM)”. 
Pola ini bekerja dengan simultan dalam tempo yang berubah, bisa lambat dan bisa juga cepat.

Kecepatan tersebut disebabkanya oleh banyak faktor, kita klasifikasikan saja disini sebagai faktor internal dan eksternal dan yang paling memengaruhi kecepatan tersebut adalah jenis informasi yang disajikan.

Prinsipnya jika informasi tersebut sudah tertanam dalam LM kita dan memberikan kesan yang baik tentu informasi baru yang berkaitan akan lebih cepat diproses.

Misal begini, jika ayah bunda diberikan sebuah informasi, “JANGAN PIKIRKAN TENTANG SPONGE BOB!”. Apa yang terjadi? Kalau tidak salah ayah bunda tadi barusan berfikir tentang Sponge Bob bukan? Dan sekarang ayah bunda berfikir tentang segala kelucuan yang pernah dilakukan oleh tokoh kartun kuning tersebut. Kasus tadi memang bukan informasi yang baru, hanya saja informasi tadi menyajikan sebuah kecepatan feedback (LM → SM → WM) yang ayah bunda alami sendiri.

Pengaruh Game Genre Arcade Picu Mental Hectic

Sekarang, coba sesekali ayah bunda bermain video game dengan genre arcade simulation, seperti game point break ataupun dame counter strike dalam level yang very hard. Coba menangi level tersebut, dengan tantangan yang secara bertahap makin sulit dimenangkan. Rasakan tiap detiknya dalam kondisi diburu dan memburu. Dengarkan suara desingan peluru dari revolver, AK 47, Shoot Gun, ataupun Machine Gun yang meraung-raung ketika ditekan pelatuk senjatanya. Rasakan sendiri bagaima menghindar, bersembunyi, menembak, dan perasaan manakala mati tertembak oleh musuk atau gara-gara menginjak peledak.

Menang ataupun kalah, setelah bermain game tersebut, coba ayah bunda pelajari materi Fisika tentang bab menghitung proses pemuaian suatu zat. Sekarang rasakan, bagaimana proses penerimaan informasi tersebut terjadi. Cepat atau lambat? Mudah atau susah? Jika ayah bunda merasa kesulitan dalam memahami konsep tersebut, ayah bunda juga bisa digolongkan telah terkena MH. Disaat kegiatan pertama (game) dilakukan, WM sudah mengalami overload cognitive dimana skemata yang masuk sudah jauh melebihi kapasitas penyimpanan. Masalah sebenarnya bukan terjadi dalam diri ayah bunda, tetapi informasi yang disajikan sudah menguras kemampuan WM dalam bekerja, inilah mengapa setiap orang butuh untuk berehat dalam pekerjaannya.

MH terjadi bisa akibat overload cognitive ataupun kegiatan yang diulang-ulang (dalam kasus anak usia dini). Calistung dapat saja menjadi potensi terjadinya MH, bahkan kegiatan sekolah pun bisa juga mengakibatkan MH. Anak usia 7 tahun yang bersekolah dari jam 7 pagi hingga pukul 13.00 atau 15.00 sore bisa berpotensi takut akan sekolah, karena kegiatan yang dilakukan setiap hari itu-itu saja, walaupun dalam pandangan kita di sekolah mereka banyak pula kegiatan bermainnya. Tapi dalam dunia anak, ini bisa menjadi proses pengekangan yang dapat berakibat fatal bagi kesehatan psikis mereka.

Calistung sangat berpotensi menyebabkan MH manakala kegiatan tersebut tidak bisa mengakomodir “cara belajar” anak-anak. Proses belajar yang kaku dan sistematis adalah faktor utama anak-anak mengalami “kejenuhan”. Proses yang terus menerus diulang-ulang pada akhirnya membentuk struktur kognitif mereka “kacau balau”. Yang semestinya berkembang dengan baik, malah dihalang-halangi. Sementara yang bukan potensinya, malah dipaksakan untuk berkembang.

Sebenarnya, dibanding calistung, bermain game dengan genre tertentu yang menguras emosi lebih rentan mengakibatkan mental hectic. Aspek multimedia yang menjadi tampilan dalam game dan memberikan informasi melalui dual-channel tanpa disadari membuat seseorang menguras segala kemampuan psikisnya. Yang pada akhirnya mengakibatkan orang tersebut “letih” untuk berfikir dan mengalami ketidakseimbangan dalam berperilaku. Terutama jika game yang dimainkan memberikan pengaruh langsung terhadap perilaku para pemainnya.

Calistung Dapat Sembuhkan Mental Hectic

Calistung sendiri malah bisa menjadi “obat” untuk MH, manakala metode yang digunakan sesuai dengan perkembangan jiwa peserta didik. Pembelajaran calistung yang memang harusnya tidak menjadi konsumsi utama anak-anak justru bisa mengembangkan kemampuan berfikir mereka, jika saja mereka dibiarkan bereksplorasi belajar melalui gaya mereka masing-masing. Coba saja lihat anak yang ini, bagaimana mungkin dia bisa berfikir sedemikian jika calistung dianggap tidak pas diajarkan di pendidikan anak.

Sekali lagi, jangan biarkan calistung hilang dari kegiatan belajar anak-anak, terutama kegiatan belajar bahasa. Karena di usia 0 hingga 17 tahun adalah masa emas seseorang dalam mempelajari bahasa. Tidak heran ada anak Indonesia yang menguasai 14 bahasa asing ketika baru menginjak usia 17 tahun. Latih kemampuan anak-anak dengan calistung, tentu dengan metode yang sesuai dengan perkembangan mereka. Yang penting bukan apa yang diajarkan, tetapi bagaimana mengajarkannya.