Contoh kegiatan, Panduan Bermasyarakat PAUD 7KAIH, dilengkapi Modul Ajar & Refeleksi untuk jenjang TK/KB. Halaman ini menyediakan panduan lengkap kebiasaan bermasyarakat anak PAUD dari Kemendikbud dilengkapi modul ajar 1 minggu, contoh kegiatan bermasyarakat, refleksi guru PAUD terkait 7KAIH Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. bermasyarakat anak PAUD, 7KAIH bermasyarakat, kebiasaan sosial anak, gotong royong anak TK, modul ajar bermasyarakat, toleransi anak usia dini, kerja sama PAUD, empati anak, refleksi guru TK, anak indonesia hebat

Kebiasaan bermasyarakat membantu anak belajar keterampilan sosial, nilai-nilai moral, membangun kepercayaan diri, dan peduli lingkungan sejak usia dini.

Apa Itu Bermasyarakat bagi Anak?

Menurut Buku Saku “Berteman Sungguh Menyenangkan” (Kemendikbud, 2025), bermasyarakat adalah kebiasaan individu yang saling berinteraksi, bekerja sama, berperan sosial, serta terlibat dalam kegiatan sosial, budaya, atau lingkungan untuk menciptakan kehidupan harmonis dan saling mendukung.

Pada anak usia dini, kebiasaan bermasyarakat berarti menumbuhkan kemampuan anak untuk hidup bersama, berinteraksi positif, dan peduli terhadap orang lain di sekitarnya. Pada tahap ini, anak mulai belajar memahami bahwa ia adalah bagian dari kelompok yang lebih luas, yaitu keluarga, teman, dan lingkungan sekitarnya.

5 Nilai Penting dalam Kebiasaan Bermasyarakat

1. Gotong Royong dan Kerja Sama

Manusia hidup berdampingan untuk saling membantu dan meringankan beban satu sama lain agar tercapai tujuan bersama yang tidak dapat dicapai jika hanya bergantung pada upaya individu. Anak belajar bahwa banyak hal menjadi lebih mudah dan menyenangkan jika dilakukan bersama.

2. Saling Menghormati dan Toleransi

Anak belajar memahami bahwa setiap orang bisa berbeda, baik dari cara berbicara, warna kulit, kebiasaan, agama, maupun latar belakang keluarga. Semua perbedaan itu perlu diterima dengan baik. Sikap menghargai dan bertoleransi yang ditanam sejak dini akan menjadi dasar bagi anak untuk tumbuh menjadi pribadi yang ramah, terbuka, dan menghormati keberagaman di masyarakat.

3. Keadilan dan Kesetaraan

Setiap anggota masyarakat berhak mendapatkan perlakuan yang adil, tanpa diskriminasi, dan memiliki kesempatan yang sama.

Contoh: Saat bermain seluncuran, guru membuat aturan: “Giliran harus adil, siapa yang sudah datang duluan, ia boleh maju pertama dan siapa yang kakinya sedang sakit, kita tunggu sebentar agar dia bisa naik tangga dan meluncur dengan hati-hati.”

4. Tanggung Jawab terhadap Lingkungan

Menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan berarti membantu anak belajar menyayangi alam dan menjaga kebersihan serta kerapian lingkungan di sekitarnya. Anak diajak memahami bahwa tindakan kecil mereka, misalnya membuang sampah pada tempatnya, dapat berdampak besar bagi lingkungan dan orang lain.

5. Menciptakan Kegembiraan

Menciptakan kegembiraan dalam bermasyarakat berarti membantu anak merasakan bahwa berinteraksi dan bekerja sama dengan orang lain itu menyenangkan. Anak belajar bahwa kegiatan bersama teman, guru, dan lingkungan sekitar bukan sekadar kewajiban, tetapi juga sumber kebahagiaan.

5 Strategi Praktis Menanamkan Kebiasaan Bermasyarakat

Strategi 1: Permainan Tradisional sebagai Sarana Interaksi Sosial

Permainan tradisional seperti gobak sodor, engklek, bakiak balap, dan permainan lainnya sesuai budaya daerah dapat melatih kerja sama, meningkatkan komunikasi, menumbuhkan empati, belajar memahami perannya, dan mampu memahami aturan bersama dalam masyarakat sejak dini.

Manfaat:

  • Melatih kerja sama tim
  • Meningkatkan komunikasi verbal
  • Menumbuhkan empati terhadap teman
  • Memahami peran dalam kelompok
  • Belajar mematuhi aturan bersama

Strategi 2: Menjadi Teladan

A. Teladan dalam Kebersihan

Guru senantiasa menjaga kebersihan dan ketertiban sekolah dengan memberikan teladan yang baik. Guru tidak membuang sampah sembarangan, melainkan selalu memilih dan memilah sampah sesuai dengan jenisnya. Setiap kali melihat bungkus makanan tergeletak di lantai, guru mengajak anak-anak buang sampah ke tempat sampah.

B. Teladan dalam Mengelola Emosi

Ketika ada anak yang menangis dan terlihat sedih karena merasa tidak diajak oleh teman-temannya bermain kereta-keretaan, sebaiknya guru melakukan validasi emosi, seperti mengakui, menerima, dan membenarkan perasaan yang sedang dialami anak, tanpa mencoba mengubah atau menghakimi perasaan itu terlebih dahulu.

Langkah:

  1. Validasi emosi: “Ibu tahu kamu sedih tidak diajak bermain.”
  2. Berikan waktu tenang
  3. Ajarkan cara berinteraksi: “Bolehkah aku ikut main kereta-keretaan ini?”

Strategi 3: Ciptakan Kegiatan Belajar yang Interaktif

Kegiatan belajar yang interaktif dapat dilakukan guru dengan menggunakan media lagu, tarian, atau permainan sederhana untuk memperkenalkan konsep baru, misalnya, bernyanyi sambil menghitung.

Saat anak berhasil mengikuti atau menyelesaikan tantangan kecil, berikan pujian yang spesifik, seperti: “Wah, kamu hebat bisa melakukan gerakan sulit dari tarian tersebut bersama kelompoknya”.

Strategi 4: Pemanfaatan Lingkungan sebagai Sumber Belajar

Pemanfaatan Lingkungan sebagai Sumber Belajar

Dalam proses ini, anak belajar dari lingkungannya. Mereka menjadi akrab dengan area tempat tinggal, merasa nyaman untuk bermain dan bermasyarakat sehingga tumbuh menjadi pribadi yang peduli, mampu bekerja sama, saling menghormati, dan bertoleransi.

Strategi 5: Gunakan Media Edukasi yang Menarik

Anak-anak belajar dan mengingat dengan baik melalui cerita, lagu, dan permainan.

  1. Buku Cerita Bacakan buku tentang berbagi, persahabatan, atau tolong-menolong.
  2. Lagu Anak Nyanyikan lagu-lagu dengan tema kebaikan, kebersamaan, dan kepedulian.
  3. Permainan Peran Ajak anak bermain peran sebagai profesi yang melayani masyarakat (dokter, pemadam kebakaran, guru) atau situasi sehari-hari yang memerlukan interaksi sosial (di warung/ minimarket).
Contoh Kegiatan, Panduan Bermasyarakat PAUD 7KAIH, Modul Ajar & Refeleksi

Download Panduan 7KAIH PAUD Bermasyarakat

Buku saku guru PAUD yang merupakan seri kebiasaan Bermasyarakat yaitu berjudul “Berteman Sungguh Menyenangkan”, silakan unduh dari tautan berikut ini :

Untuk buku saku seri lain yang merupakan buku saku untuk Guru PAUD bisa didapatkan gratis disini. Berikut ini daftar buku panduan 7KAIH PAUD :

No7KAIH PAUDJudul BukuDownload File Buku Saku Guru 7KAIH
1Bangun PagiAku Senang Bangun PagiLink Dokumen
2BeribadahAyo Rajin BeribadahLink Dokumen
3BerolahragaAyo Bergerak Sehat BersamaLink Dokumen
4Makan Sehat dan BergiziMakananku Sehat dan BergiziLink Dokumen
5Gemar BelajarSerunya Belajar Melalui BermainLink Dokumen
6BermasyarakatBerteman Sungguh MenyenangkanLink Dokumen
7Tidur CepatTidur Cepat, Bangun SemangatLink Dokumen

Modul Ajar 1 Minggu: “Aku Bagian dari Masyarakat”

Informasi Umum

  • Durasi: 5 hari (Senin-Jumat)
  • Tema: Lingkunganku – Hidup Bersama

HARI 1 (Senin): Mengenal Tetangga dan Lingkungan

Kegiatan Pembuka (15 menit)

  • Lagu “Lihat Kebunku”
  • Diskusi: “Siapa yang tinggal di sebelah rumahmu?”

Kegiatan Inti (40 menit)

1. Cerita Bergambar “Tetangga Baru” (15 menit)

  • Guru membacakan cerita tentang anak yang menyambut tetangga baru
  • Diskusi: “Apa yang kamu lakukan jika ada tetangga baru?”
  • Mengenalkan nilai: saling menyapa, membantu

2. Bermain Peran “Bertamu ke Rumah Tetangga” (25 menit)

  • Buat 3 area: rumah sendiri, rumah tetangga kiri, rumah tetangga kanan
  • Anak bermain peran: mengetuk pintu, menyapa, mengucapkan salam
  • Latihan sopan santun: “Permisi”, “Terima kasih”

Kegiatan Penutup (10 menit)

  • Refleksi: “Apa yang kamu pelajari tentang bertamu?”
  • Menggambar rumah sendiri dan rumah tetangga

Bahan dan Alat: Buku cerita, kardus untuk “rumah”, kertas, crayon

HARI 2 (Selasa): Gotong Royong Membersihkan Kelas

Kegiatan Pembuka (10 menit)

  • Lagu “Gotong Royong”
  • Pertanyaan: “Apa itu gotong royong?”

Kegiatan Inti (40 menit)

1. Diskusi Gotong Royong (10 menit)

  • Guru menjelaskan: “Gotong royong adalah bekerja bersama-sama”
  • Tanya jawab: “Pekerjaan apa yang bisa dilakukan bersama?”

2. Praktik Gotong Royong (30 menit)

  • Bagi anak menjadi 4 kelompok dengan tugas berbeda:
    • Kelompok 1: Merapikan mainan
    • Kelompok 2: Mengelap meja dan kursi
    • Kelompok 3: Menyapu lantai
    • Kelompok 4: Membuang sampah dan mengepel
  • Setiap kelompok bekerja sama menyelesaikan tugas
  • Rotasi kelompok setiap 7 menit

Kegiatan Penutup (10 menit)

  • Refleksi: “Bagaimana perasaanmu saat bekerja bersama?”
  • Diskusi: “Apakah pekerjaan lebih cepat selesai jika dikerjakan bersama?”

Bahan dan Alat: Sapu, pel, lap, wadah sampah, mainan

HARI 3 (Rabu): Bermain Tradisional – Gobak Sodor

Kegiatan Pembuka (10 menit)

  • Cerita tentang permainan tradisional Indonesia
  • Menunjukkan gambar/video gobak sodor

Kegiatan Inti (40 menit)

1. Penjelasan Aturan Gobak Sodor (10 menit)

  • Guru menjelaskan aturan permainan
  • Bagi anak menjadi 2 tim
  • Diskusi: “Apa yang harus dilakukan agar menang?”

2. Praktik Bermain Gobak Sodor (30 menit)

  • Buat garis di lantai/halaman
  • Tim A menjaga, Tim B melewati
  • Setelah 15 menit, bergantian peran
  • Guru mengamati: kerja sama, komunikasi, sportivitas

Kegiatan Penutup (10 menit)

  • Refleksi: “Apa yang membuat tim kamu menang/kalah?”
  • Diskusi nilai: “Apakah yang menang boleh sombong?”
  • Bersalaman dan ucapkan “Terima kasih sudah bermain bersama”

Bahan dan Alat: Kapur/selotip untuk garis, area luas

HARI 4 (Kamis): Berbagi dengan Teman

Kegiatan Pembuka (10 menit)

  • Lagu “Teman”
  • Pertanyaan: “Pernahkah kamu berbagi dengan teman?”

Kegiatan Inti (40 menit)

1. Cerita “Roti yang Dibagi” (15 menit)

  • Guru bercerita tentang anak yang berbagi bekalnya dengan teman
  • Diskusi: “Apa yang kamu rasakan saat berbagi?”
  • Mengenalkan empati: “Bagaimana perasaan teman yang tidak bawa bekal?”

2. Praktik Berbagi Snack (25 menit)

  • Siapkan berbagai snack dalam jumlah terbatas
  • Setiap anak mendapat porsi berbeda (sengaja tidak merata)
  • Amati: Apakah anak mau berbagi dengan yang porsinya lebih sedikit?
  • Guru memfasilitasi: “Teman kamu hanya dapat sedikit, apa yang bisa kamu lakukan?”
  • Latihan membagi secara adil

Kegiatan Penutup (10 menit)

  • Refleksi: “Apakah kamu merasa senang saat berbagi?”
  • Membuat kartu ucapan “Terima Kasih” untuk teman yang sudah berbagi

Bahan dan Alat: Snack (biskuit, buah), kertas, crayon

HARI 5 (Jumat): Kunjungan ke Lingkungan Sekitar

Kegiatan Pembuka (10 menit)

  • Review kegiatan minggu ini
  • Persiapan kunjungan (aturan saat di luar)

Kegiatan Inti (50 menit)

1. Kunjungan ke Warung/Minimarket Terdekat (30 menit)

  • Berjalan bersama ke warung terdekat
  • Mengamati: Bagaimana penjual melayani pembeli?
  • Praktik berinteraksi: “Selamat pagi, Bu/Pak”
  • Belajar bertransaksi sederhana (beli permen/jajan kecil)
  • Ucapkan “Terima kasih” setelah dilayani

2. Observasi Lingkungan (20 menit)

  • Amati fasilitas umum: jalan, taman, tempat sampah
  • Diskusi: “Siapa yang membersihkan jalan?”
  • “Mengapa kita harus membuang sampah pada tempatnya?”
  • Jika ada sampah, ajak anak memungutnya

Kegiatan Penutup (15 menit)

  • Kembali ke sekolah dengan tertib
  • Refleksi mingguan: “Apa yang paling kamu suka minggu ini?”
  • Sertifikat “Sahabat Masyarakat”

Bahan dan Alat: Uang saku kecil (500-1000 rupiah/anak), sertifikat, kantong sampah kecil

Literasi dan Numerasi Bermasyarakat 7KAIH PAUD

Literasi:

  • Komunikasi verbal: Menyapa, meminta maaf, berterima kasih, meminta izin
  • Mendengarkan aktif: Mendengarkan teman berbicara tanpa memotong
  • Bercerita: Menceritakan pengalaman bermain bersama teman
  • Membaca situasi sosial: Memahami kapan harus berbicara pelan/keras

Numerasi:

1. Monkey Bar – Bergiliran dengan Hitungan

  • Tujuan: Mengembangkan nilai menghargai orang lain yang juga ingin bermain
  • Cara bermain: Anak bermain monkey bar bergantian. Pada hitungan ke-10, anak harus berhenti dan bergantian dengan yang lain
  • Numerasi: Berhitung 1-10, konsep giliran

2. Bermain Congklak/ Dakon

  • Tujuan: Melatih anak berhitung sampai 25, membagikan 25 biji congklak secara merata ke dalam lubang, memperkenalkan aturan permainan, melatih bermain bergantian, melatih sportivitas
  • Numerasi: Berhitung, membagi secara merata, menghitung kemenangan

Keterlibatan Orang Tua

Orang tua berperan penting dalam menumbuhkan kebiasaan bermasyarakat pada anak sejak dini terutama di lingkungan rumah. Melalui teladan sikap seperti saling menolong, menghormati tetangga, dan menjaga kebersihan lingkungan, anak belajar arti hidup bersama dengan rukun.

Orang Tua sebagai Motivator

Ajak anak-anak untuk terlibat langsung kegiatan bermasyarakat dalam rangka meningkatkan jiwa nasionalisme.

Contoh: Menetapkan tujuan menghias kelas bersama anak-anak dengan bernuansa merah putih dan bernyanyi bersama lagu “17 Agustus” bersama anak-anak.

Orang Tua sebagai Teladan

Tunjukkan sikap bertanggung jawab dengan selalu menepati janji. Misalnya, ketika orang tua berjanji untuk menjemput anaknya tepat waktu, pastikan janji tersebut benar-benar ditepati. Hal ini akan mengajarkan anak tentang pentingnya integritas dan tanggung jawab.

Cerita Inspiratif: Praktik Baik

Praktik Baik Bapak T – Kerja Sama melalui Manajemen Waktu

Latar Belakang: Bapak T mengamati banyak anak sering ribut, ngobrol, dan bercanda sehingga telat menghabiskan makanan/ kudapan (snack) dan akhirnya tersisa banyak.

Solusi: Mengubah metode dari lisan ke signal menggunakan musik.

Langkah:

1. Informasi di Awal Kegiatan Saat Circle Time, Bapak T menyampaikan bahwa setiap kegiatan snack time akan diberikan batas waktu dengan timer di TV LCD kelas selama 15 menit.

Guru akan memutarkan lagu “Clean Up” (https://www.youtube.com/watch?v=SFE0mMWbA-Y) dengan durasi 4 menit, sebagai tanda waktu makan snack sudah hampir selesai, kemudian merapikan alat makan, berdoa, ambil buku, dan baca di tempat yang nyaman.

2. Observasi Setelah 2 minggu pembiasaan, Bapak T mencatat jumlah anak yang tertib saat kudapan (snack) meningkat lebih baik dari sebelumnya.

Praktik Baik Ibu R – Toleransi melalui Voice Level

Latar Belakang: Ibu R mengamati anak-anak di kelasnya saat kegiatan main, suaranya cukup nyaring. Saat diskusi dengan teman di grup, suaranya mengganggu grup lain. Namun, saat presentasi di depan teman, volume suaranya jadi mengecil.

Solusi: Membuat simbol level suara (voice level).

Sistem Voice Level:

  • Level 0 (Tidak ada suara): Saat guru menjelaskan
  • Level 1 (Bisik): Saat diskusi dalam kelompok
  • Level 2 (Suara normal): Saat bermain
  • Level 3 (Suara keras): Saat presentasi/bernyanyi bersama

Hasil: Anak-anak lebih mudah mengontrol volume suara mereka sesuai situasi, menghormati teman yang sedang berbicara, dan menciptakan suasana kelas yang kondusif.

Refleksi: Kebiasaan Bermasyarakat Anak PAUD

Refleksi Guru (Template)

Template Refleksi: Kebiasaan Bermasyarakat Anak PAUD

Contoh Refleksi Guru (Sudah Diisi)

Nama Guru: Ibu Dewi
Tanggal: 18 Februari 2028
Tema: Gotong Royong Membersihkan Kelas

PENGAMATAN SAYA:

Hari ini anak-anak terlihat SANGAT gembira saat kegiatan gotong royong membersihkan kelas. Mereka dibagi menjadi 4 kelompok dengan tugas berbeda. Yang paling menarik:

– Raffa yang biasanya individual, hari ini aktif membantu temannya menyapu!
– Kelompok 2 (mengelap meja) bekerja sama dengan sangat baik, bahkan mereka bagi tugas sendiri: “Kamu pegang lap, aku pegang ember”
– Saat rotasi kelompok, transisi berjalan lancar karena mereka sudah paham sistem giliran

NILAI YANG MUNCUL:
✓ Gotong royong: Semua anak terlibat, tidak ada yang hanya menonton
✓ Kerja sama: Komunikasi antar anggota kelompok sangat baik
✓ Tanggung jawab: Setiap kelompok menyelesaikan tugasnya dengan tuntas
✓ Kegembiraan: Mereka tertawa, bernyanyi sambil bekerja

TANTANGAN:
– 2 anak (Budi dan Sinta) awalnya malu memegang pel karena “kotor”
– Kelompok 3 (menyapu) sempat berebut sapu
– Waktu 30 menit terasa kurang, anak masih ingin lanjut

SOLUSI YANG DITERAPKAN:
– Untuk Budi dan Sinta: Saya tunjukkan cara memegang pel yang benar, lalu saya pel dulu, baru mereka. Akhirnya mereka mau coba!
– Untuk yang berebut: Saya ingatkan aturan giliran dan tunjukkan cara kerja sama: “Satu anak pegang sapu, satu pegang pengki”
– Untuk waktu: Minggu depan akan tambah waktu jadi 40 menit

HASIL AKHIR:
Kelas bersih dan rapi! Yang paling membanggakan, setelah selesai anak-anak bilang “Asik ya Bu, besok kita gotong royong lagi!” Ini tandanya mereka MENIKMATI proses bermasyarakat.

RENCANA TINDAK LANJUT:
– Minggu depan: Gotong royong membersihkan halaman sekolah
– Buat jadwal piket harian agar kebiasaan gotong royong terus berlanjut
– Libatkan orang tua: Minta anak ceritakan pengalaman gotong royong di rumah

Indikator Keberhasilan

Untuk Guru:
✓ 80% anak aktif berpartisipasi dalam kegiatan kelompok
✓ Anak mampu bermain bergantian tanpa berebut
✓ Anak menggunakan kata sopan (tolong, maaf, terima kasih) minimal 3x sehari
✓ Anak mau membantu teman yang kesulitan

Untuk Orang Tua:
✓ Anak menyapa tetangga saat bertemu
✓ Anak mau berbagi mainan dengan saudara/teman
✓ Anak ikut membantu pekerjaan ringan di rumah (merapikan mainan, menyapu)
✓ Anak menunjukkan empati saat ada yang sedih/sakit

Penutup

Kebiasaan bermasyarakat adalah fondasi penting membentuk anak Indonesia yang peduli, empatik, dan mampu hidup harmonis dalam keberagaman menuju 2045. Dengan 5 strategi praktis—permainan tradisional, keteladanan guru, kegiatan interaktif, pemanfaatan lingkungan, dan media edukatif—guru dan orang tua dapat menanamkan nilai gotong royong, toleransi, dan tanggung jawab sejak dini